Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label BAHAYA NUKLIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAHAYA NUKLIR. Tampilkan semua postingan

TEPCO: Air Tercemar Dapat Meluap

Sabtu, 4 Juni 2011

EDUCATION SUN ONLINE

TEPCO: Air Tercemar Dapat Meluap

TOKYO, (PRLM), EDUCATION SUN ONLINE - Perusahaan Tenaga Listrik Tokyo, TEPCO, mengatakan dalam kemungkinan terburuk, air beradioaktif tinggi dapat meluap dari PLTN Fukushima Daiichi secepatnya tanggal 20 Juni. Demikian seperti dikutip NHK, Jumat (3/6).

Perusahaan itu mulai bersiap mengoperasikan alat penyaring air beradioaktif tinggi dari tanggal 15 Juni. Namun pihaknya memperingatkan bila alat tersebut tidak berjalan sesuai rencana, air beradioaktif tinggi dapat meluap dari saluran di reaktor No. 2.

TEPCO mengatakan hingga 31 Mei, 105.100 ton air limbah telah terkumpul.

TEPCO berencana menyaring 1.200 ton air per hari di sebuah fasilitas penyimpanan dan memindahkan air yang telah tersaring ke tangki-tangki sementara. TEPCO mengatakan pihaknya telah mempersiapkan tangki-tangki untuk 13 ribu ton air tersaring dan akan meningkatkan kapasitas hingga 20 ribu ton air per bulan. (nhk/das)***

Source : Pikiran Rakyat Online, Sabtu, 4 Juni 2011

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

DAMPAK GEMPA JEPANG : Air Minum di Tokyo Telah Terkontaminasi

Jumat, 20 Mei 2011

EDUCATION SUN ONLINE

DAMPAK GEMPA JEPANG

Air Minum di Tokyo Telah Terkontaminasi

TOKYO, Kompas, EDUCATION SUN ONLINE - Pemerintah Metropolitan Tokyo, Rabu (23/3), menganjurkan warga untuk tidak melarutkan susu formula bagi bayi dengan air leding di kota itu karena ditemukan kandungan bahan radioaktif melebihi batas normal.

Wartawan Kompas Ahmad Arif yang berada di Tokyo melaporkan, pihak berwajib di kota itu menemukan radioaktivitas isotop iodin-131 mencapai 210 becquerel per 1 liter air di sebuah pusat pemurnian air minum di utara Tokyo. Becquerel (Bq) adalah satuan radioaktivitas yang menunjukkan jumlah inti atom yang meluruh (dan memancarkan radiasi) dalam satu detik.

Jumlah tersebut masih di bawah ambang batas aman bagi orang dewasa, yakni 300 Bq per liter, tetapi sudah lebih dari dua kali lipat jumlah yang diizinkan untuk bayi berumur di bawah satu tahun. Bayi sangat rentan terhadap paparan radiasi dari iodin karena bisa menyebabkan kanker tiroid.

Gubernur Tokyo Shintaro Ishihara mengatakan, level radioaktivitas tersebut tidak serta- merta menimbulkan efek negatif terhadap kesehatan manusia. ”Namun, untuk bayi berumur di bawah satu tahun, saya menganjurkan agar warga tak lagi menggunakan air leding untuk melarutkan susu formula,” tuturnya.

Meski Ishihara dan para pejabat lain, termasuk Sekretaris Kabinet Yukio Edano dan pejabat Kementerian Kesehatan, menegaskan bahwa air leding masih aman dikonsumsi, tak urung warga Tokyo bereaksi dengan berbondong-bondong memborong air minum dalam kemasan.

Akibatnya, di beberapa toko, air kemasan menjadi sulit diperoleh, seperti di pertokoan sekitar Stasiun Metro Tokyo.

”Warga mulai panik dan membeli banyak minuman dalam botol. Sebagian sudah takut minum air leding,” kata Takako Chinoi, warga Tokyo.

Terus meluas

Selain di Tokyo, jejak radioaktivitas dari PLTN Fukushima Daiichi juga terus ditemukan pada radius yang makin jauh dari reaktor nuklir yang bocor. Kementerian Ilmu Pengetahuan Jepang menyatakan telah mencatat kandungan radioaktivitas iodin-131 sebesar 43.000 Bq per 1 kilogram tanah yang diambil dari lokasi berjarak 40 kilometer dari PLTN tersebut.

Profesor Keigo Endo dari Universitas Gunma kepada NHK menyebutkan, kadar iodin-131 tersebut mencapai 430 kali lipat dari kondisi normal di tanah Jepang. Sementara kadar cesium-137 mencapai 47 kali lipat kondisi normal.

Endo menyebutkan, orang yang tinggal di area itu dalam jangka satu tahun akan mendapatkan paparan radioaktif empat kali lipat ambang batas normal sesuai standar nasional.

Meski demikian, Pemerintah Jepang hingga Rabu belum menambah radius zona berbahaya di sekitar PLTN. Pemerintah masih menetapkan radius 20 km sebagai zona bahaya di mana warga harus dievakuasi dan menganjurkan warga pada radius 30 km tidak keluar rumah dan menutup jendela rapat-rapat guna mengurangi paparan radiasi.

Rabu sore, asap hitam keluar dari reaktor unit 3 yang membuat otoritas kembali mengevakuasi semua pekerja di sekitar reaktor. ”Kami belum tahu apa penyebab asap itu,” kata Hidehiko Nishiyama dari Badan Keselamatan Nuklir dan Industri (NISA) Jepang.

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengaku prihatin dengan penanganan insiden nuklir di Fukushima dan menyayangkan Pemerintah Jepang yang tak memberikan data lengkap. IAEA mengaku tak mendapatkan data suhu kolam penampung bahan bakar bekas di reaktor unit 1, 3, dan 4. ”Kami terus mendeteksi radiasi keluar dari lokasi (PLTN), tetapi masih ada pertanyaan, dari mana tepatnya radiasi itu berasal?” ujar pejabat IAEA, James Lyons.

Amerika Serikat dan Hongkong telah melarang impor beberapa bahan makanan, seperti susu, sayur-mayur, dan buah-buahan, dari beberapa prefektur di sekitar PLTN tersebut. Kementerian Kesehatan Jepang telah menemukan kadar radioaktivitas melebihi ambang batas pada air, susu, dan 11 jenis sayuran yang ditanam di Fukushima, termasuk brokoli, kubis, dan daun peterseli.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan akan memperketat pengawasan bahan pangan impor dari Jepang. Jika ditemukan kontaminasi, produk tersebut akan langsung disita dan diserahkan kepada Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). (AP/AFP/Reuters/DHF/ENY)***

Source : Kompas, Kamis, 24 Maret 2011

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gempa Tetap Menjadi Misteri Alam

Kamis, 19 Mei 2011

EDUCATION SUN ONLINE

PREDIKSI GEMPA

Gempa Tetap Menjadi Misteri Alam

Oleh Ahmad Arif

Pengetahuan tentang gempa bumi dan tsunami sangatlah pendek, sependek ingatan manusia. Padahal, periode keberulangan bencana alam paling mematikan ini bisa jadi sangat lama. Gempa bumi dan tsunami yang menghancurkan pantai timur Jepang, Jumat (11/3/2011), merupakan bukti keterbatasan manusia dibandingkan kekuatan alam.

Keterbatasan pengetahuan manusia diakui Profesor Teruyuki Kato dari Earthquake Research Institute (ERI) The University of Tokyo. Kato adalah peraih penghargaan bergengsi di Jepang, The Invention Prize, karena mengembangkan global positioning system (GPS) tsunami monitoring system. Dengan sistem ini, Pemerintah Jepang bisa membuat estimasi dan menyampaikan informasi datangnya tsunami kepada warga sekitar pantai dalam hitungan menit.

Karena itu, dia menjadi salah seorang tumpuan pertanyaan masyarakat Jepang tentang ”kegagalan” ilmuwan dalam memprediksi dan mengantisipasi gempa raksasa yang melanda Jepang baru-baru ini. Senin (14/3/2011), sejak pagi puluhan wartawan antre untuk menemui sang profesor.

”Jepang termasuk yang paling maju dalam memperkirakan gempa. Namun, gempa Jumat lalu mengajarkan, itu semua jauh dari cukup,” kata Kato.

Menurut dia, ilmuwan Jepang telah memperkirakan, gempa akan terjadi di sekitar Sendai, Prefektur Miyagi, dengan kemungkinan 99,9 persen dalam kurun 30 tahun. Kekuatannya diperkirakan 7,5 skala Richter (SR) dan akan diikuti tsunami setinggi 6 meter.

Perkiraan ini dibuat berdasarkan jejak rekam gempa dan tsunami di zona itu pada tahun 1896 dan 1933 dengan kekuatan 7-8 SR. ”Yang lebih kami takutkan adalah patahan Kanto dibandingkan Sendai,” katanya. Pada tahun 1923, patahan Kanto bergerak dan menyebabkan gempa berkekuatan 7,9 SR. Sebanyak 145.144 orang tewas.

Dengan perkiraan itu, dibuat tanggul setinggi 10 meter di beberapa area di pantai timur Jepang, termasuk di sekitar pembangkit nuklir Fukushima Daiichi. Namun, perkiraan meleset.

Gempa memang terjadi, bahkan lebih cepat dari perkiraan. Kekuatannya jauh dari prediksi, yaitu 8,9 SR. Belakangan, direvisi menjadi 9,0 SR. Tinggi tsunami yang menerjang lebih dari 10 meter dan menyapu pantai kurang dari 15 menit setelah gempa. Tak hanya menghancurkan permukiman dan pusat bisnis, tsunami menyebabkan reaktor nuklir Fukushima Daiichi terbakar, memicu krisis nuklir.

”Tsunami yang hanya 10-15 menit setelah gempa sangat pendek rentang waktunya. Jadi, kalau peringatan tsunami diberikan tiga menit setelah gempa dan sampai ke masyarakat lima menit kemudian, dalam waktu 10 menit lari dari pantai terlalu pendek,” kata Kato.

Memahami bumi

Kato mengakui, ilmu prediksi gempa dan peringatan dini terhadap tsunami masih sangat lemah. ”Ilmu prediksi tentang gempa dan tsunami terbatas. Kami belum bisa meramalkan dengan tepat, kapan, di mana, dan seberapa kuat gempa akan terjadi,” kata Kato.

Sebelum gempa yang disusul tsunami dua pekan lalu, rekan Kato di ERI, Kenji Satake, pernah menduga bahwa 1.000 tahun lalu kawasan Sendai pernah dilanda tsunami besar, sama seperti Jumat lalu. Hal ini didasarkan jejak sedimen tanah yang terkubur di sekitar di kawasan itu. Namun, penelitian masih sangat awal, belum bisa menjadi rujukan mitigasi. ”Setelah gempa dan tsunami lalu, kami terpikir, jangan-jangan tsunami sebesar Jumat lalu pernah terjadi 1.000 tahun lampau,” kata Yozo Goto, juga dari ERI.

Pemantauan dengan GPS menunjukkan, pelat bumi bergerak perlahan, saling bertumbukan, dan dipastikan akan patah. Namun, kapan pelat bumi akan patah dan seberapa panjang patahnya, tak pernah bisa diprediksi dengan pasti.

Ilmuwan hanya mencatat, tujuh dari 11 gempa raksasa (berkekuatan di atas 8,5 SR) yang terjadi selama abad ke-20, yaitu kurun waktu 1950-1965. Tak ada gempa raksasa selama periode 1965 hingga 2004. Selama abad ke-19, hanya tercatat dua kali gempa raksasa di bumi ini. Catatan-catatan yang terbilang berumur muda sulit untuk memetakan pola gempa raksasa.

Apakah gempa raksasa akan terjadi tiap 100 tahun, 500 tahun, atau bahkan 1.000 tahun? Atau justru gempa raksasa itu terjadi secara acak? Kita tak pernah tahu angka berapa yang akan muncul?

Antisipasi teknologi

Kato mengatakan, satu-satunya jalan untuk meminimalkan dampak gempa dan tsunami adalah meningkatkan teknologi. ”Kekuatan gedung dan infrastruktur harus ditambah untuk antisipasi yang terburuk,” katanya.

Nyaris semua bangunan yang rusak di Jepang saat ini adalah karena tsunami, bukan akibat gempa. Gedung di Jepang bisa menahan kekuatan gempa hingga 7 skala (mercalli modification intensity/MMI) karena mereka belajar dari gempa Hanshin tahun 1995. ”Kita harus meningkatkan standar karena kita tak pernah tahu dengan pasti kekuatan gempa yang akan datang,” kata Kato.

Daerah-daerah yang memiliki jejak rekam tsunami harus terus ditinggikan tanggul-tanggulnya untuk antisipasi yang terburuk.

Dibandingkan gempa dan tsunami yang berkekuatan nyaris setara yang mengguncang Aceh pada 2004, antisipasi yang dilakukan Jepang bisa dibilang sukses dalam mereduksi jumlah korban.

Walau angka korban tewas gempa Jepang terus bertambah dan diperkirakan mencapai 20.000 jiwa, jika dibandingkan dengan Aceh masih terbilang kecil. Aceh menewaskan sekitar 200.000 jiwa, 10 kali lipat lebih banyak. Padahal, kota-kota di pesisir timur Jepang, seperti Sendai, Tohoku, dan Kesennuma, lebih padat dibandingkan Aceh. Bagaimana jika gempa besar melanda kota-kota kita? Sudah siapkah kita?***

Source : Kompas, Kamis, 31 Maret 2011

KOMENTAR

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • UNTUNG PURNOMO

Kamis, 31 Maret 2011 | 08:40 WIB

ayo tingkatkan pemahaman keilmuan kita dalam segala hal, jangan hanya betengkar, bertengkar dan bertengkar saja.

Balas tanggapan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

WHO : Tak Ada Bukti Radiasi Menyebar dari Jepang

Kamis, 19 Mei 2011

Education Sun online

WHO : Tak Ada Bukti Radiasi Menyebar dari Jepang

Editor: Asep Candra

AP

Pembangkit Fukushima Dai-Ichi saat ini, setelah tsunami terjadi.

TERKAIT:

BEIJING, Education Sun online - Perwakilan Badan Kesehatan Dunia (WHO) di China, Rabu (16/3/2011), menegaskan bahwa tidak ada bukti tentang penyebaran radiasi secara lintas negara dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima yang sedang bermasalah di Jepang.

"Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ingin meyakinkan pemerintah dan masyarakat bahwa hingga saat ini belum ada bukti kuat yang menyebutkan bahwa radiasi nuklir dari PLTN di Jepang meluas ke luar negeri," ungkap Michael O’Leary, perwakilan WHO untuk China, dalam pernyataan tertulisnya. "Berbagai rumor telah menyebar melalui pesan singkat telepon genggam dan media lain yang menyebutkan bahwa awan radiasi yang berbahaya tengah meluas ke seluruh Asia akibat kerusakan PLTN di Jepang," tambahnya.

"Pemerintah dan anggota masyarakat harus menghentikan rumor ini, yang berbahaya bagi moral publik luas," demikian tulisnya.*** (RTR,ANT)***

Source : Kompas.com, Rabu, 16 Maret 2011 | 18:07 WIB |

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

NUKLIR JEPANG : Dua Pertiga Rakyat Jepang Ingin PM Naoto Kan Mundur

Kamis, 21 April 2011

EDUCATION SUN ONLINE

KRISIS NUKLIR JEPANG

Dua Pertiga Rakyat Jepang Ingin PM Naoto Kan Mundur

Dua perempuan berjalan melewati bunga yang mulai bersemi di daerah yang dilanda tsunami di Otsuchi, Prefektur Iwate, Jepang, Senin (18/4). Parlemen Jepang menuntut Presiden Direktur Tepco, perusahaan pengelola PLTN Fukushima Daiichi, bertanggung jawab atas bencana yang terjadi.(AFP/TOSHIFUMI KITAMURA)***

TOKYO, Senin, EDUCATION SUN ONLINE - Tekanan dan desakan mundur terhadap Perdana Menteri Jepang Naoto Kan semakin besar, Senin (18/4). Sejumlah jajak pendapat yang digelar beberapa koran utama di Jepang menunjukkan, lebih dari dua pertiga rakyat Jepang tidak puas dengan kinerja perdana menteri dan ingin dia segera diganti.

Tiga koran besar di Jepang, yakni Nikkei, Mainichi Shimbun, dan Asahi Shimbun, menggelar jajak pendapat yang diumumkan hari Senin. Hampir 70 persen responden yang disurvei harian bisnis Nikkei menginginkan Kan segera diganti karena menganggap respons pemerintah terhadap bencana tidak memuaskan.

Masyarakat juga mengaku tidak puas dengan rencana program pengendalian krisis yang diumumkan Tokyo Electric Power Co (Tepco), perusahaan operator PLTN Fukushima Daiichi, sehari sebelumnya. Harian Mainichi Shimbun menganggap tidak ada yang konkret pada rencana tersebut. Sementara itu, Nikkei menyebut kerangka waktu pengendalian krisis nuklir tersebut tidak terlalu mempertimbangkan kepentingan penduduk di sekitar PLTN.

Di luar hasil jajak pendapat tersebut, Kan juga kembali menerima hujatan di parlemen. ”Anda harus menundukkan kepala untuk minta maaf. Anda jelas-jelas tak memiliki kepemimpinan sama sekali,” teriak Masashi Waki, anggota parlemen dari partai oposisi Partai Liberal Demokrat (LDP), kepada Kan dalam sesi sidang parlemen, Senin.

Seorang anggota parlemen lain menuding Kan tidak siap menangani bencana ini sejak awal. Ia mengutip pengakuan Kan sendiri bahwa ia tidak bisa mengingat secara detail latihan tanggap darurat bencana yang menyimulasikan kecelakaan nuklir seperti di PLTN Fukushima Daiichi, tahun lalu.

Kan hanya bisa membela diri dengan mengatakan, krisis dalam skala sebesar ini belum pernah terjadi di Jepang sebelumnya.

”Jepang sudah banyak mengalami krisis sebelum ini, tetapi saya yakin ini adalah krisis terbesar selama 65 tahun sejak Perang Dunia II berakhir. Mulai sekarang, kita tetap harus menjalankan strategi kita dalam dua hal,” tutur Kan, mengacu pada usaha pembangunan kembali wilayah yang terkena tsunami dan penyelesaian krisis nuklir di Fukushima.

Mencari dana

Selain menghadapi kritik keras, Pemerintah Jepang juga menghadapi masalah bagaimana mendapatkan biaya untuk pembangunan kembali pada saat utang negara sudah dua kali lipat dari nilai produk domestik bruto senilai 5 triliun dollar AS. Pemerintah masih berusaha menghindari pilihan menerbitkan obligasi baru senilai 4 triliun yen (48 miliar dollar AS) sebagai dana darurat awal meski kelihatannya Jepang tak punya pilihan lain lagi dalam kondisi seperti ini.

Pihak oposisi di parlemen menentang usul Partai Demokrat Jepang (DPJ), yang berkuasa saat ini, untuk menaikkan pajak guna membiayai rekonstruksi Jepang itu. Namun, mayoritas responden jajak pendapat mendukung ide menaikkan pajak.

”Saya ingin meminta rakyat untuk memikul bersama beban ini seluas-luasnya. Sementara kami meninjau kembali semua pembelanjaan dan pendapatan (negara) untuk mengumpulkan dana (rekonstruksi), semua orang perlu berbagi derita,” ungkap Deputi Menteri Keuangan Jepang Fumihiko Igarashi.

Para pengamat politik menambahkan, pergantian pucuk pimpinan pemerintahan Jepang diduga tak akan terjadi dalam waktu dekat meski Kan mendapat hujan kritik dan desakan mundur.

”Pada saat kita harus bekerja untuk membangun kembali setelah gempa, tidak mungkin menjalankan pemungutan suara untuk mengubah kepemimpinan DPJ atau menggelar pemilihan umum,” tutur Hajime Ishii, anggota majelis tinggi dari DPJ.

Masih tinggi

Dari PLTN Fukushima Daiichi dilaporkan, dua robot Packbots buatan AS berhasil memasuki bagian dalam bangunan reaktor Unit 1 dan 3, Minggu. Dari hasil pengukuran robot-robot ini, tingkat radiasi masih mencapai 49 milisievert per jam di dalam reaktor Unit 1 dan 57 milisievert per jam di dalam Unit 3, atau masih terlalu berbahaya bagi manusia.

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Hidup AS (EPA), batas aman paparan radiasi bagi pekerja nuklir di AS adalah 50 milisievert per tahun.(Reuters/AP/AFP/DHF)***

Source : Kompas, Selasa, 19 April 2011

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tepco: Reaktor Stabil 6-9 Bulan Lagi

Senin,

18 April 2011

EDUCATION SUN ONLINE

KRISIS JEPANG

Gambar Illustrasi dari berbagai sumber.

KRISIS JEPANG

Tepco: Reaktor Stabil 6-9 Bulan Lagi

TOKYO, Minggu, EDUCATION SUN ONLINE - Untuk pertama kalinya perusahaan operator PLTN Fukushima Daiichi, Tokyo Electric Power Co, secara resmi memberikan perkiraan kerangka waktu penyelesaian krisis nuklir di PLTN tersebut, Minggu (17/4).

Tokyo Electric Power Co (Tepco) memperkirakan butuh waktu 6-9 bulan sampai kondisi stabil dan warga di sekitar PLTN bisa kembali ke rumah masing-masing.

Kondisi stabil bisa tercapai setelah reaktor-reaktor nuklir yang rusak akibat gempa dan tsunami memasuki tahap pemadaman dingin (cold shutdown). Ini adalah tahapan saat tidak terjadi lagi reaksi nuklir di teras reaktor dan suhu air pendingin berada di bawah 100 derajat celsius.

Dalam pengumuman yang disampaikan pemimpin Tepco, Tsunehisa Katsumata, ini disebutkan, program pengendalian krisis nuklir di Fukushima Daiichi akan dilakukan dalam tiga tahap.

Tahap pertama, yang ditargetkan selesai dalam tiga bulan, adalah menstabilkan reaktor dengan memastikan seluruh batang bahan bakar nuklir di teras reaktor dalam kondisi terendam air, kemudian menyuntikkan nitrogen ke dalam teras reaktor.

Selain itu, Tepco juga akan menambal kebocoran di reaktor Unit 2 dengan sejenis semen yang akan menahan air pendingin di dalam lapisan pelindung bertekanan. Selain itu, mereka juga akan membangun fasilitas penampung dan pemroses air limbah radioaktif serta menutup seluruh bangunan reaktor dengan semacam kain khusus guna mencegah kebocoran radiasi.

Setelah tahap pertama selesai, dilanjutkan dengan tahap menjaga kestabilan pemadaman dingin dan memasang sistem penyalur panas di kolam-kolam penampung bahan bakar bekas.

Setelah kondisi stabil, dalam jangka panjang Tepco berniat memasang sistem pemrosesan air limbah yang lebih lengkap dan akan menutup seluruh reaktor dengan dinding beton. Pada tahap ini seluruh bahan bakar akan dipindahkan dari teras reaktor dan kolam penampung.

Meski rencana Tepco tersebut terdengar sangat rapi dan lengkap, para pejabat Pemerintah Jepang mengingatkan kondisi saat ini masih jauh dari stabil. ”Dengan kondisi saat ini, (pemaparan rencana) itu adalah hal terbaik yang bisa mereka lakukan. Namun, tak berarti kondisi reaktor sudah stabil,” tutur juru bicara Badan Keselamatan Industri dan Nuklir Jepang (NISA), Hidehiko Nishiyama.

Hari Sabtu, tingkat radiasi di laut dekat PLTN kembali naik hingga 6.500 kali lipat di atas batas yang diizinkan. Para pekerja Tepco langsung menuangkan karung-karung berisi pasir dan zeolit, mineral yang bisa menyerap isotop radioaktif cesium.

Mereka juga mengirim dua robot buatan AS untuk mendeteksi radiasi, suhu, kelembaban, dan jumlah oksigen di dalam reaktor Unit 3.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham Clinton berkunjung singkat selama 5,5 jam ke Tokyo, Minggu, dan sempat bertemu PM Naoto Kan, Menlu Jepang Takeaki Matsumoto, dan Kaisar Jepang Akihito serta Permaisuri Michiko. Hillary mengungkapkan keyakinannya, Jepang akan mampu bangkit dari krisis. (AP/AFP/Reuters/DHF)***

Source : Kompas, Minggu, 16 April 2011

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Penolakan PLTN Mulai Dikampanyekan

Sabtu,

16 April 2011

EDUCATION SUN ONLINE

KELISTRIKAN

Penolakan PLTN

Mulai Dikampanyekan

PANGKAL PINANG, EDUCATION SUN ONLINE - Kampanye penolakan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (15/4), dilakukan di desa-desa yang akan menjadi calon lokasi pembangunan. Selain menggalang tanda tangan dari warga, mereka juga memutar film tentang bahaya nuklir.

Koordinator Forum Lingkar Studi Progresif Babel (FLSPB), Andira, menuturkan, pengumpulan tanda tangan dimulai dari Desa Kemang Masam dan Desa Air Putih. ”Kedua desa itu direncanakan sebagai lokasi pembangunan PLTN,” tuturnya di Muntok.

FLSPB menyampaikan sejumlah dampak PLTN di beberapa negara. Pasalnya, selama ini banyak masyarakat tidak tahu wilayah mereka akan dijadikan lokasi pembangunan PLTN. ”Sosialisasi sangat terbatas dan lebih sering hanya menyampaikan kebaikan-kebaikan PLTN saja. Tidak disinggung bahaya-bahaya seperti radiasi radioaktif dan ledakan seperti di Jepang sekarang,” tutur Andira.

Pegiat Laskar Bangka Belitung Tolak Nuklir, Fahrizan, mengatakan, di Desa Permis, Bangka Selatan, pihaknya memutar dampak ledakan reaktor Chernobyl. Desa ini juga direncanakan sebagai lokasi pembangunan PLTN. ”Kami ingin memberi pandangan lain soal PLTN kepada masyarakat setempat,” ujarnya.

Sebelumnya, oleh pemerintah sebagian tokoh masyarakat desa itu dikumpulkan di Toboali, ibu kota Bangka Selatan. Di sana ada sosialisasi soal PLTN yang lebih banyak berisi dampak negatif. ”Masyarakat Permis dijanjikan bisa bekerja di PLTN. Tidak pernah dijelaskan apa kriteria calon pekerja PLTN. Masyarakat hanya dibuai mimpi,” ujarnya.

Laskar Bangka Belitung Tolak Nuklir (B-TON) juga menggandeng beberapa kelompok masyarakat untuk mengampanyekan penolakan PLTN di Babel.

Mereka juga memasang aneka poster dan spanduk penolakan PLTN di berbagai kabupaten di Babel. ”Kami butuh listrik, bukan nuklir,” tuturnya. (RAZ)***

Source : Kompas, Sabtu, 16 April 2011

KOMENTAR

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • Agus Panca Putera

Sabtu, 16 April 2011 | 10:55 WIB

Yg menolak PLTN terutama teknology Nuklir di Indonesia adalah PENGHIANAT. Berarti mrk cecunguk asing yg tdk ingin Indonesia maju. Pasti aktifitas mrk didanai asing. Kita butuh teknology Nuklir dr reaktor, PLTN hingga Nuclear Ballistic Missile sehingga Indonesia tdk jd macan ompong

Balas tanggapan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Seperlima Reaktor Nuklir Rawan Gempa

Senin,

11 April 2011

EDUCATION SUN ONLINE

Seperlima Reaktor Nuklir Rawan Gempa

Penulis: Yunanto Wiji Utomo | Editor: Tri Wahono

Yasushi Kanno Reaktor nuklir nomor 1 di pembangkit Fukushima Daiichi di Okumamachi, Prefektur Fukushima, Jepang. (AP Photo/The Yomiuri Shimbun)***

EDUCATION SUN ONLINE - Risiko gempa menjadi salah satu pertimbangan penting untuk memilih lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Namun, bukan berarti di daerah rawan bencana tak dibangun PLTN selama ini. Jepang termasuk salah satu negara rawan gempa yang banyak membangun reaktir nuklir untuk kebutuhan energi tersebut.

Berdasarkan data World Nuclear Association (WNA), 20 persen dari 440 reaktor komersial yang kini dioperasikan di berbagai belahan dunia berada di wilayah rawan gempa. Beberapa dari 62 reaktor yang kini masih di dalam konstruksi juga berada di zona rawan gempa, bersama dengan 500 unit yang sedang dalam upaya pengembangan, terutama di negara berkembang cepat.

Banyak kalangan industri tenaga nuklir mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah masalah. Pembangunan reaktor dikatakan telah memperhitungkan faktor tersebut. Berdasarkan WNA, reaktor telah didesain untuk bisa bertahan dengan gempa terbesar yang diprediksikan bisa terjadi di wilayah pembangkit listrik tenaga nuklir dibangun.

Namun, seismolog meragukan perhitungan yang telah dibuat oleh para perancang PLTN. Terutama menyangkut gempa yang di luar prediksi, seperti gempa bermagnitud 9 yang terjadi di Jepang Jumat lalu. Seismolog mengatakan, peristiwa tersebut kadang hanya terjadi sekali dalam seratus tahun, namun rekaman sejarah tentangnya sangat kurang.

Berkaitan dengan kejadian di Jepang, seismolog United State Geological Survey (USGS) yang memiliki spesialisasi patahan dan di dekat Jepang Ross Stein mengatakan, "Jepang kurang memperhitungkan magnitud gempa yang mungkin terjadi di wilayah tersebut." Ia mengatakan, seharusnya dibuat evaluasi lagi tentang perkiraan magnitud gempa maksimum yang bisa terjadi di seluruh area.

Berdasarkan Global Seismic Hazard Map, reaktor Jepang berada dalam wilayah yang berisiko "sangat tinggi" dan "tinggi" dari ancaman gempa pada setengah abad mendatang. Berdasarkan rekaman historis dan geologis, teknologi tinggi saat ini menunjukkan Peak Ground Acceleration (PGA) yang wilayah itu bisa alami dalam 50 tahun mendatang dengan kemungkinan 10 persen.

Peak Ground Acceleration (PGA) adalah indeks kekuatan gempa di permukaan Bumi. Tak seperti skala Richter dan Moment Magnitude Scale (terakhir adalah yang digunakan saat ini), PGA tidak mengukur energi yang dilepaskan saat gempa, tapi seberapa kuat muka bumi "bergoyang" dalam gempa yang terjadi di wilayah tertentu.

Enam reaktor milik Cina berada pada zona beresiko sedang, sedangkan reaktor milik Korea Selatan yang menyuplai 30 persen dari kebutuhan energi listrik negara tersebut beresiko rendah. Sementara reaktor milik Taiwan tergolong terletak di wilayah beresiko tinggi. Demikian pula 4 reaktor di California dan di Washington.

Di luar wilayah cincin api, wilayah rawan gempa dengan instalasi reaktor nuklir ada di wilayah Asia selatan dan Tengah. Instalasi di Pakistan dan India utara memiliki resiko sedang, beserta 2 reaktor (1 dalam konstruksi dan 1 sedang direncanakan) di Iran. Di Eropa, ancaman aktivitas seismik terhadap reaktor relatif rendah, dengan perkecualian di beberapa lokasi, misalnya reaktor eksperimen di Perancis tenggara. ***

Source : Kompas.com, Rabu, 16 Maret 2011 | 17:28 WIB

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

GEMPA DAN TSUNAMI JEPANG : Skala Bencana di Luar Perkiraan

Minggu,

10 April 2011

EDUCATION SUN ONLINE

GEMPA DAN TSUNAMI JEPANG

Skala Bencana di Luar Perkiraan

Editor: Egidius Patnistik

Tsunami Jepang. (AP Photo)***

TERKAIT:

JAKARTA, EDUCATION SUN ONLINE Gempa besar yang melanda Jepang dan memicu tsunami, Jumat (11/3/2011), di luar perkiraan Japan Meteorological Agency. Namun, mereka sangat siap mengantisipasi hal ini.

”Besarnya gempa 8,9 skala Richter di luar dugaan JMA (Japan Meteorological Agency). Ada beberapa lempeng yang bergerak di dekat daerah Miyagi,” kata Bambang Rudyanto, penasihat senior Asian Disaster Reduction Center yang dihubungi dari Jakarta melalui surat elektronik, Jumat. ”Gempa susulan masih terus terjadi. Kereta dan pesawat, termasuk operasional Bandara Narita, sempat dihentikan,” katanya.

Walaupun skala bencana di luar dugaan, menurut Rudyanto, Pemerintah Jepang dan masyarakatnya terlihat telah mempersiapkan diri dengan baik. Hal ini terlihat dari sedikitnya korban jika dibandingkan dengan gempa dan tsunami yang nyaris setara yang pernah melanda Aceh tahun 2004.

”Dua jam setelah gempa melanda, PM Naoto Kan menggelar jumpa pers dan mengumumkan task force khusus dengan dia sebagai ketuanya,” kata Rudyanto.

Kesigapan pemerintah dan masyarakat sipil Jepang dalam menghadapi bencana juga disampaikan warga negara Indonesia di Jepang. Junanto Herdiawan, warga Indonesia yang tinggal di Tokyo, mengatakan, ”Luar biasa kesigapan Pemerintah Jepang, mereka langsung menetapkan kondisi darurat. Dan betapa masyarakat percaya kepada pemerintahnya. Tidak terjadi kekacauan.”

Menurut Junanto, sebulan dua kali pihak kelurahan di tempat dia tinggal memperingatkan bahwa gempa besar menanti Jepang. ”Anak saya sudah diberi tahu guru bahwa akan datang gempa besar 100 tahun sekali. Secara rutin mereka latihan di sekolah,” katanya.

Saat gempa terjadi anaknya yang masih berusia delapan tahun masih berada di sekolah. Namun, Junanto mengaku tidak khawatir dengan keselamatan anaknya. ”Gurunya sudah menjamin anak-anak aman di sekolah. Mereka juga sudah dilatih untuk itu,” ujarnya.

Dina Faoziah, mahasiswi program doktor di Tokyo University of Agriculture and Technology, asal Semarang, juga menuturkan, Pemerintah Jepang sangat siap menghadapi bencana ini. ”Mereka menyiapkan sistem dan warga dengan baik. Simulasi gempa dan tsunami di daerah pesisir dilakukan di sekolah-sekolah. Bahkan, bayi pun dibiasakan menjalani simulasi,” katanya. Karena itu, walaupun gempa sangat besar, Dina tetap tenang. (AIK)***

Source : Kompas Cetak, Sabtu, 12 Maret 2011 | 06:33 WIB

Ada 14 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • Aki chan

Senin, 14 Maret 2011 | 12:33 WIB

Di sini boro-boro peringatan, begitu ada bencana para pejabat, pakar "tell me" pada berlomba-lomba komentar, orang2 DEPSOS menyanyi lagu "tangismu senyumku"


  • achmadi surya

Minggu, 13 Maret 2011 | 05:40 WIB

kapan dicontoh oleh pemerintah Indonesia ????


  • Garuda Emas

Sabtu, 12 Maret 2011 | 13:33 WIB

ini baru pemerintah yg benar....semoga pemerintah kita bisa belajar dari Jepang, mengingat potensi bencana di negara kita sangat besar dan banyak..


  • nana quirana

Sabtu, 12 Maret 2011 | 10:54 WIB

Perlu dicontoh Indonesia yg sama2 negara rawan bencana. semua rakyat harus diberi pembekalan pengetahuan soal menghadapi segala bencana. pelatihan jangan cuma pas setelah bencana. harus diwaspadai setiap saat.


  • agus susianta

Sabtu, 12 Maret 2011 | 10:29 WIB

Bagus kalau selalu ada simulasi gempa... Bgaimana dengan masyarakat Indonesia di pesisir Indonesia? Sudahkah masuk kurikulum?


  • MOHAMAD BAROK

Minggu, 13 Maret 2011 | 20:49 WIB

bagaimana mau belajar gempa? sekolahan di sini yang diutamakan biaya, rakyat pusing urusin biaya sekolah yang mahal. yang lain no. sekian..... hehe.....


  • otto cangkung

Sabtu, 12 Maret 2011 | 10:10 WIB

INDONESIA HARUS BELAJAR BANYAK DARI JEPANG UNTUK URUSAN KESIGAPAN BENCANA YANG MEMINIMALISIR KORBAN JIWA.


  • MOHAMAD BAROK

Minggu, 13 Maret 2011 | 20:47 WIB

tidak hanya uruusan kesigapan, soal etika pun kita harus belajar banyak dari jepang


  • Romi Susanto

Sabtu, 12 Maret 2011 | 08:43 WIB

sebaiknya di Indonesia jg dilatih anak2x dlm menghadapi setiap bencana yg tidak diduga suatu waktu bisa terjadi krn di negara kt jg rawan terjadi gempa, banjir dll.


  • atim suradji

Sabtu, 12 Maret 2011 | 08:11 WIB

ikut prihatin atas musibah yg menimpa saudara tua kita..jepang. kapan ya kita bisa meniru cara2 mrk mengatasi musibah......yaaaaahh, mash jauh...boro2 mau meniru. Sumbangan bencana aja dikorupsi...!!!!


  • Andri_maskumambang

Sabtu, 12 Maret 2011 | 07:46 WIB

Patut di contoh dalam kesigapan menghadapi bencana.........saluuuuuuutttttttttt.


  • Ronnyatheos Matheos

Sabtu, 12 Maret 2011 | 07:37 WIB

itulah Jepang...Negara yg perduli dengan Rakyatnya.....


  • zahra assifa

Sabtu, 12 Maret 2011 | 07:33 WIB

coba kalo indonesia sprtiitu......


  • Harri Poernomo

Sabtu, 12 Maret 2011 | 07:23 WIB

kapan pemerintah Indonesia bisa menangani masalah bencana dengan profesional seperti jepang??? gak mau belajar kali yak??

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS